Kisah 4 Jenderal TNI-POLRI Asal Pulau Dewata
Baru-baru ini Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto sekaligus Calon Presiden nomor urut 2, dianugerahkan gelar Jenderal Kehormatan Bintang 4 oleh Presiden RI Joko Widodo dalam rapat pimpinan TNI di Mabes TNI. Tanda kehormatan itu adalah penghargaan yang diberikan Presiden kepada seseorang, kesatuan, institusi pemerintah atau organisasi atas dharmabakti dan kesetiaan yang luar biasa kepada bangsa dan negara. Dalam hal ini, Pulau Dewata disamping terkenal karena wisatanya juga terdapat tokoh-tokoh terkenal di dunia militer. Sebelum ada ABRI, Bali punya milisi bernama Corps Prajoda yang salah satu anggotanya adalah I Gusti Ngurah Rai, pahlawan nasional yang gugur pada jaman revolusi. Setelah revolusi berlalu, banyak juga orang Bali yang masuk dunia militer.
Ratu Agung Ngurang Agung Bonjoran Bayupathy alias Rangga Banjoran Bayupathy adalah mantan pejuang era revolusi dan menjadi perwira TNI di Makassar pada tahun 1971. Menurut Majalah Tokoh (17-23 Maret 2014), beliau merupakan tokoh berjuluk “Bintang Pratama Dewata” sebagai putra Pulau Dewata pertama yang meraih pangkat Brigadir Jenderal. Hal ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Pulau Dewata karena dengan populasi 4 Juta dari 270 Juta penduduk Indonesia sampai saat ini sudah banyak yang meraih pangkat tertinggi sebagai Jenderal sebab beberapa daerah misalnya seperti Majelis Adat Dayak Nasional yang pada tahun lalu bertemu dengan Panglima TNI Andika Perkasa untuk mengusulkan agar putra-putri asli Kalimantan bisa menduduki posisi Perwira Tinggi TNI dan minimnya para keturunan Tionghoa untuk bisa menjadi perwira poilisi serta mengabdi di militer. Ada beberapa alasan yang membuat penulis tertarik untuk menulis artikel ini, pertama karena ada ikatan batin emosional dan satu kebudayaan dengan para tokoh, kedua banyak teman dekat dan keluarga besar yang berprofesi sebagai abdi negara, ketiga sejak penulis menempuh pendidikan di Jakarta rata-rata Pura atau Tempat suci umat Hindu berada di Komplek Militer dan Kepolisian berbeda dengan lingkungan di Perguruan Tinggi atau Kampus yang jarang sekali ada tempat ibadah bagi semua agama. Misalnya peresmian Pura Polda Riau oleh Bapak Kapolri pada tahun lalu, pembangunan Pura Akademi Militer dan Kodam Jaya oleh Bapak Kasad Jenderal Dudung, lalu pembangunan Pasraman di Komplek Paspampres oleh Komandan Paspampres Jenderal Maruli Simanjuntak, kemudian peresmian Pura TNI AL oleh Bapak Panglima TNI dan masih banyak lagi sehingga hal itu sebagai wujud komitmen TNI-POLRI sebagai rumah Pancasila yang menjaga persatuan dan stabilitas negara. Berikut 4 Jenderal kelahiran Pulau Dewata dengan karir cemerlang dan kontribusinya untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia :
1. Letnan Jenderal TNI I Nyoman Cantiasa, S.E., M.Tr.(Han)
Di TNI Angkatan Darat ada Letjen TNI I Nyoman Cantiasa merupakan seorang perwira tinggi TNI-AD yang sejak 9 November 2023 mengemban amanat sebagai Wakil Kepala Badan Intelijen Negara. Beliau merupakan Lulusan Terbaik Akademi Militer Tahun 1990 peraih Penghargaan bergengsi Bintang Adhi Makayasa & Tri Sakti Wiratama dari Presiden RI Soeharto. Dalam sejarah di militer, Bapak Cantiasa adalah satu-satunya perwira asal Bali yang hampir terpilih menjadi Panglima Kostrad dan masuk nominasi calon kuat Kepala Staf Angkatan Darat bersama beberapa kandidat lainnya, salah satunya menantu Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan yaitu Bapak Jenderal Maruli Simanjuntak yang notabene juniornya di Kopassus dan di Akmil. Letjen TNI I Nyoman Cantiasa adalah pria kelahiran Desa Bubunan, Seririt, Buleleng pada tanggal 26 Juni 1967. Bapaknya adalah seorang Guru dan Sastrawan Bali yaitu Pak Nengah Tinggen dengan 65 buku hasil karyanya yang sebagian besar berisi pengetahuan tentang bahasa dan sastra Bali antara lain buku “Pasang Aksara Basa Bali”, “Sor Singgih Basa Bali”,
“Kidung Dewa Yadnya lan Kramaning Sembah”, “Tata Bahasa Jawa Kuno”,
“Merawat Kesehatan Sendiri Melalui Triduara Boga” dan “Sarining Usada
Bali jilid 1, 2 dan 3”. Kakeknya juga merupakan pejuang di masa revolusi yang memberontak pada Belanda atau NICA. "Ada tiga hal yang membuat saya memilih dunia militer. Pertama
karena memang cita-cita. Kedua, paman saya (alm. Wayan Sada, anak buah I Gusti
Ngurah Rai) merupakan inspirator. Pada masa perang, tugasnya sebagai tim khusus
I Gusti Ngurah Rai bagian utara yaitu Buleleng tugasnya mematikan, potong
aliran listrik, telepon penjajah yang dipasang zaman perjuangan. Ini adalah
kemampuan langka dan khusus pada masa perang. Ayah banyak bercerita tentang
paman saya ini. Ketiga, lingkungan saya dekat dengan orang-orang berseragam.
Ada kebanggaan jika bisa memakai seragam militer," ungkap Letjen I Nyoman Cantiasa.
Sumber : kmhdi-nilai-letjen-nyoman-cantiasa-sosok-tepat-pimpin-tni-ad
Beberapa tahun belakangan ini, Bapak Cantiasa ternyata sosok unggul sebagai Rising Star TNI AD dengan karir militer bagus dimana pada tahun 2019 beliau diangkat menjadi Komandan Jenderal Kopassus atau Pemimpin sebuah pasukan elit yang yang terkenal di seluruh dunia. Dari banyak pengalaman Operasi Militer Berbahaya seperti Operasi Seroja, Operasi Pemberontakan Di Aceh, Operasi Tinombala, Operasi Pembebasan Sandera Mapenduma, Operasi Nemangkawi, Operasi Damai Cartenz, Operasi di Pembajakan Kapal MV Sinar Kudus dan Operasi Konflik Ambon. Ia mengaku di Ambon yang paling memberi tantangan karena bertugas di daerah konflik dengan di daerah operasi pertempuran berbeda dimana ada masyarakat kita yang harusa diamankan. Kala itu terjadi konflik horizontal dan ada pihak yang memiliki persenjataan hampir 900 pucuk tersebar di masyarakat dan ini kerawanan terjadi bentrokan dan pasti ada korban. Cantiasa yang menggunakan nama sandi Arjuna 2 menjabat Kasi Ops sektor yang membawahi hampir 9 Batalyon di wilayah Ambon, juga menjadi incaran. Ia bahkan sempat dimaki-maki melalui handytalkie. "Arjuna 2 Arjuna 2....Anjing kamu.... Babi kamu". Kondisi Ambon ia bayangkan seperti pertempuran di Sarajevo karena suara tembakan senapan, bom dll silih berganti baik pagi, siang apalagi pada malam hari. Berkat pendekatan strategi yang ia lakukan bersama tim, akhirnya provokator bisa ditangkap, konflik bisa terselesaikan secara damai sampai saat ini. Sumber : ambon-manise-sejenak-menjadi-sarajevo
Mengenai pengalaman di daerah operasi, Cantiasa juga
menuturkan operasi pembebasan sandera di Kapal Sinar Kudus yang dibajak perompak Somalia saat beliau menjadi Komandan Satuan 81 Gultor Kopassus (pasukan paling elit di kopassus) serta di pedalaman hutan Mapenduma Irian Jaya. Keberhasilan
operasi di Irian Jaya tahun 1996 saat menjadi anak buah Prabowo Subianto ini membuat Cantiasa memperoleh kenaikan pangkat
luar biasa (KPLB) dari Letnan Satu menjadi Kapten. Tahun 2006 ia ditunjuk sebagai komandan kontingen RI
di ajang AARM (lomba tembak militer se-ASEAN) di Vietnam. Tantangannya, kalau
gagal, ia dicopot jabatannya. Indonesia sudah 15 kali ikut lomba tidak pernah
menang. Berkat kerja keras tim, mereka bisa meraih juara umum dari 15 trofi,
Indonesia meraih 9 trofi. Negara peserta heran melihat prestasi Indonesia yang luar
biasa kata. "Moto kami saat itu, "impossible make possible".
Saya dan tim pun dipanggil Presiden SBY ke Istana Negara. Tidak semua tentara
bisa menghadap langsung dengan Presiden," ujar Komandan upacara saat
upacara penurunan bendera 17 Agustus 2013 ini di Istana Negara Jakarta.
Sumber : 10-menit-perompak-somalia-takluk
Saat berkesempatan bertugas di Bali menjadi Danrem 163 Wirasatya, Letjen TNI I Nyoman Cantiasa berbagi terkait pengalaman konflik di berbagai wilayah merupakan suatu contoh dan pelajaran karena akhirnya semua hanya penyesalan ibarat nasi sudah jadi bubur. "Kita bunuh diri namanya bila situasi di Bali tidak aman masyarakat kita tidak bisa cari kerja karena tidak ada wisatawan yang datang". Ia pun mengingatkan mereka untuk mengedepankan ajaran agama Hindu seperti Tattwam Asi dan Ahimsa. Sesama orang Bali dan orang yang tinggal di Bali, tidak mengenal dari berbagai suku agama golongan yang penting tinggal di Bali jangan mudah terprovokasi dan diadu domba. Kalau sampai ini terjadi, orang lain akan tepuk tangan. Keamanan bukan hanya tugas tentara atau polisi saja tetapi ini adalah tugas tanggung jawab bersama. TNI adalah rakyat, bersama rakyat TNI kuat dan bersama TNI rakyat sejahtera.
2. Komisaris Jenderal Polisi (Purn.) Drs. I Made Mangku Pastika, M.M.
Sumber : Bom_Bali_2002
Sumber : made-mangku-pastika-jejak-derita-jenderal-bintang-tiga
3. Marsekal TNI (Purn.) Ida Bagus Putu Dunia
"Putu, walaupun kamu pintar dan mendapat Adhi Makayasa, kamu tidak akan mungkin menjadi Kasau."
"Mas, jangan pernah bermimpi akan menjadi Kasau ya...!"
Tapi ternyata sejarah baru terukir. Setelah 67 tahun Indonesia merdeka, pertama kalinya putra Bali memperoleh kepercayaan untuk menyandang pangkat 4 TNI/Polri. Sosok yang diberi mandat tersebut adalah IB Putu Dunia. Walaupun ia ingat betul saat masih berpangkat Letnan, tidak sedikit perwira senior yang menyangsikan kemampuan dan mimpi-mimpinya. Atas apa yang dicapainya, Marsekal TNI IB Putu Dunia berharap dirinya bukanlah satu-satunya putra Bali yang mampu membuktikan dan berhasil ada di posisi itu.
Ia mengatakan, sejak awal dinas di TNI AU, ia mendapat Korps/Jurusan Penerbang (PNB) untuk menerbangkan pesawat tempur. Meski kadang singkatan PNB diartikan sebagai "Perwira Nasib Baik." IB Putu Dunia tetap berpegang pada prinsip bahwa agar memiliki nasib yang baik, maka perlu perjuangan sehingga bisa memenangkan persaingan. Setidaknya harus memiliki nilai yang lebih dari orang lain.
Nasib baik tersebut, menurutnya tak dibawa begitu saja sejak lahir, melainkan memerlukan usaha dan setiap saat mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Sebagaimana kata pepatah, "Luck is what happen when preparation meets opportunity."
Marsekal TNI IB Putu Dunia yakin, bahwa perlu "satu nilai plus" seseorang untuk mencapai kesuksekan. Nilai plus itu terbentuk dari sinergi antara pengetahuan dan strategi, serta ditunjang dengan keberanian mengambil risiko yang terukur. Terlepas dari itu, tetap ada faktor X yang sangat sulit untuk dijelaskan.
Faktor-faktor tersebut beberapa kali telah dibuktikannya. Misalkan ketika menjalankan tugas-tugas yang diberikan padanya. Ia harus berani dan mau melaksanakan tugas terbang solo enam jam pesawat A-4 Skyhawk dengan pengisian bahan bakar di udara/air refueling dan dalam kondisi sudah empat tahun tidak pernah latihan air refueling.
Selain itu, sebagai Komandan Lanud, ia mempersiapkan dan bertanggung jawab untuk menerbangkan pilot SU 27/30 Sukhoi yang tidak laik/current terbang karena kesiapan pesawat zero, dengan mengubah Standing Operational Procedures (SOP). Di mana sepertinya latihan dilakukan di luar negeri, tapi biayanya mahal.
Ia juga pernah ditugaskan sebagai Kontingen Garuda IX/1, menjadi anggota United Nations Iran-Iraq MIlitary Observer Group (UNIIMOG). Dalam situasi perang Iran-Irak itulah dirinya hampir menjadi korban ranjau. Ketika itu ia bersama rombongan mengadakan patroli rutin. Di depannya satu kendaraan dikawal tentara Irak. Tiba-tiba kendaraan di depannya mengalami ledakan keras yang rupanya ban mobil melindas ranjau.
Kemampuan melaksanakan tugas dan kewajiban itulah yang ia percaya, akhirnya memberikan "buah" tersendiri dalam perjalanan kariernya. Tak cukup hanya memiliki kemampuan dan memahami teknologi saja, bagi suami dari Ida Ayu Kumala Dewi ini, bisa diterima oleh lingkungan dan menjaga nilai-nilai spiritualitas sangatlah penting. Begitu pula dengan dukungan dan restu dari pihak keluarga.
Saat itu, Senin 17 Desember 2012, Marsekal Madya TNI Ida Bagus Putu Dunia akhirnya secara resmi dilantik oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) ke-19, menggantikan Marsekal TNI Imam Sufaat SIP. Apa yang dulu saat kecil sering dibayangkan oleh IB Putu Dunia menjadi kenyataan. Saat kecil, IB Putu Dunia memang suka melihat kapal yang terbang di langit. Sumber : presiden-lantik-kasau-dan-kasal
"Waktu kecil saya tidak tahu apa itu cita-cita. Saya hanya ingin dapat mengisi hidup menjadi lebih baik, jangan seperti orangtua saya yang harus susah bekerja di sawah."
( Foto : KASAU menganugerahkan Bintang Adhi Makayasa kepada Letda (Pnb) I Putu Satrya Kedaton sebagai Lulusan Terbaik Akademi Angkatan Udara Tahun 2013 )
Beberapa tahun setelah menyandang predikat purnawirawan dan memimpin TNI AU dengan sukses, putra dari Ida Bagus Made Tantera dan Ida Ayu Ketut Nur itu memberi pesan agar para juniornya bisa terus berjuang dan bahkan melebihi dirinya.
"Saya sangat berharap akan ada para junior yang mencapai pangkat seperti saya, bahkan dengan karier yang lebih baik. Saya mau sebagai orang Bali yang menjadi Jenderal pertama, tetapi tidak mau menjadi satu-satunya Jenderal asal Bali."
4. Laksamana Madya TNI (Purn) I Putu Ardana

.jpg)




.jpeg)
.jpeg)






.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
Comments
Post a Comment