Kisah 4 Jenderal TNI-POLRI Asal Pulau Dewata

Baru-baru ini Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto sekaligus Calon Presiden nomor urut 2, dianugerahkan gelar Jenderal Kehormatan Bintang 4 oleh Presiden RI Joko Widodo dalam rapat pimpinan TNI di Mabes TNI. Tanda kehormatan itu adalah penghargaan yang diberikan Presiden kepada seseorang, kesatuan, institusi pemerintah atau organisasi atas dharmabakti dan kesetiaan yang luar biasa kepada bangsa dan negara. Dalam hal ini, Pulau Dewata disamping terkenal karena wisatanya juga terdapat tokoh-tokoh terkenal di dunia militer. Sebelum ada ABRI, Bali punya milisi bernama Corps Prajoda yang salah satu anggotanya adalah I Gusti Ngurah Rai, pahlawan nasional yang gugur pada jaman revolusi. Setelah revolusi berlalu, banyak juga orang Bali yang masuk dunia militer.

Ratu Agung Ngurang Agung Bonjoran Bayupathy alias Rangga Banjoran Bayupathy adalah mantan pejuang era revolusi dan menjadi perwira TNI di Makassar pada tahun 1971. Menurut Majalah Tokoh (17-23 Maret 2014), beliau merupakan tokoh berjuluk “Bintang Pratama Dewata” sebagai putra Pulau Dewata pertama yang meraih pangkat Brigadir Jenderal. Hal ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Pulau Dewata karena dengan populasi 4 Juta dari 270 Juta penduduk Indonesia sampai saat ini sudah banyak yang meraih pangkat tertinggi sebagai Jenderal sebab beberapa daerah misalnya seperti Majelis Adat Dayak Nasional yang pada tahun lalu bertemu dengan Panglima TNI Andika Perkasa  untuk mengusulkan agar putra-putri asli Kalimantan bisa menduduki posisi Perwira Tinggi TNI dan minimnya para keturunan Tionghoa untuk bisa menjadi perwira poilisi serta mengabdi di militer. Ada beberapa alasan yang membuat penulis tertarik untuk menulis artikel ini, pertama karena ada ikatan batin emosional dan satu kebudayaan dengan para tokoh, kedua banyak teman dekat dan keluarga besar yang berprofesi sebagai abdi negara, ketiga sejak penulis menempuh pendidikan di Jakarta rata-rata Pura atau Tempat suci umat Hindu berada di Komplek Militer dan Kepolisian berbeda dengan lingkungan di Perguruan Tinggi atau Kampus yang jarang sekali ada tempat ibadah bagi semua agama. Misalnya peresmian Pura Polda Riau oleh Bapak Kapolri pada tahun lalu, pembangunan Pura Akademi Militer dan Kodam Jaya oleh Bapak Kasad Jenderal Dudung, lalu pembangunan Pasraman di Komplek Paspampres oleh Komandan Paspampres Jenderal Maruli Simanjuntak, kemudian peresmian Pura TNI AL oleh Bapak Panglima TNI dan masih banyak lagi sehingga hal itu sebagai wujud komitmen TNI-POLRI sebagai rumah Pancasila yang menjaga persatuan dan stabilitas negara. Berikut 4 Jenderal kelahiran Pulau Dewata dengan karir cemerlang dan kontribusinya untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia :

1.  Letnan Jenderal TNI I Nyoman Cantiasa, S.E., M.Tr.(Han)

Di TNI Angkatan Darat ada Letjen TNI I Nyoman Cantiasa merupakan seorang perwira tinggi TNI-AD yang sejak 9 November 2023 mengemban amanat sebagai Wakil Kepala Badan Intelijen Negara. Beliau merupakan Lulusan Terbaik Akademi Militer Tahun 1990 peraih Penghargaan bergengsi Bintang Adhi Makayasa & Tri Sakti Wiratama dari Presiden RI Soeharto. Dalam sejarah di militer, Bapak Cantiasa adalah satu-satunya perwira asal Bali yang hampir terpilih menjadi Panglima Kostrad dan masuk nominasi calon kuat Kepala Staf Angkatan Darat bersama beberapa kandidat lainnya, salah satunya menantu Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan yaitu Bapak Jenderal Maruli Simanjuntak yang notabene juniornya di Kopassus dan di Akmil. Letjen TNI I Nyoman Cantiasa adalah pria kelahiran Desa Bubunan, Seririt, Buleleng pada tanggal 26 Juni 1967. Bapaknya adalah seorang Guru dan Sastrawan Bali yaitu Pak Nengah Tinggen dengan 65 buku hasil karyanya yang sebagian besar berisi pengetahuan tentang bahasa dan sastra Bali antara lain buku “Pasang Aksara Basa Bali”, “Sor Singgih Basa Bali”, “Kidung Dewa Yadnya lan Kramaning Sembah”, “Tata Bahasa Jawa Kuno”, “Merawat Kesehatan Sendiri Melalui Triduara Boga” dan “Sarining Usada Bali jilid 1, 2 dan 3”. Kakeknya juga merupakan pejuang di masa revolusi yang memberontak pada Belanda atau NICA. "Ada tiga hal yang membuat saya memilih dunia militer. Pertama karena memang cita-cita. Kedua, paman saya (alm. Wayan Sada, anak buah I Gusti Ngurah Rai) merupakan inspirator. Pada masa perang, tugasnya sebagai tim khusus I Gusti Ngurah Rai bagian utara yaitu Buleleng tugasnya mematikan, potong aliran listrik, telepon penjajah yang dipasang zaman perjuangan. Ini adalah kemampuan langka dan khusus pada masa perang. Ayah banyak bercerita tentang paman saya ini. Ketiga, lingkungan saya dekat dengan orang-orang berseragam. Ada kebanggaan jika bisa memakai seragam militer," ungkap Letjen I Nyoman Cantiasa.
Sumber : kmhdi-nilai-letjen-nyoman-cantiasa-sosok-tepat-pimpin-tni-ad

( Foto : I Nyoman Cantiasa saat masih Taruna di Akademi Militer )


( Foto : Bapak Letjen TNI I Nyoman Cantiasa bersama Keluarga )

Beberapa tahun belakangan ini, Bapak Cantiasa ternyata sosok unggul  sebagai Rising Star TNI AD dengan karir militer bagus dimana pada tahun 2019 beliau diangkat menjadi Komandan Jenderal Kopassus atau Pemimpin sebuah pasukan elit yang yang terkenal di seluruh dunia. Dari banyak pengalaman Operasi Militer Berbahaya seperti Operasi Seroja, Operasi Pemberontakan Di Aceh, Operasi Tinombala, Operasi Pembebasan Sandera Mapenduma, Operasi Nemangkawi, Operasi Damai Cartenz, Operasi di Pembajakan Kapal MV Sinar Kudus dan Operasi Konflik Ambon. Ia mengaku di Ambon yang paling memberi tantangan karena bertugas di daerah konflik dengan di daerah operasi pertempuran berbeda dimana ada masyarakat kita yang harusa diamankan. Kala itu terjadi konflik horizontal dan ada pihak yang memiliki persenjataan hampir 900 pucuk tersebar di masyarakat dan ini kerawanan terjadi bentrokan dan pasti ada korban. Cantiasa yang menggunakan nama sandi Arjuna 2 menjabat Kasi Ops sektor yang membawahi hampir 9 Batalyon di wilayah Ambon,  juga menjadi incaran. Ia bahkan sempat dimaki-maki melalui handytalkie. "Arjuna 2  Arjuna 2....Anjing kamu.... Babi kamu". Kondisi Ambon ia bayangkan seperti pertempuran di Sarajevo karena suara tembakan senapan, bom dll silih berganti baik pagi, siang apalagi pada malam hari. Berkat pendekatan strategi yang ia lakukan bersama tim, akhirnya provokator  bisa ditangkap, konflik bisa terselesaikan secara damai sampai saat ini. Sumber : ambon-manise-sejenak-menjadi-sarajevo

(Video : Pesan Moral dari Brigjen TNI I Nyoman Cantiasa bahwa setiap butir nasi adalah Uang Rakyat)

Mengenai pengalaman di daerah operasi, Cantiasa juga menuturkan operasi pembebasan sandera di Kapal Sinar Kudus yang dibajak perompak Somalia saat beliau menjadi Komandan Satuan 81 Gultor Kopassus (pasukan paling elit di kopassus) serta di pedalaman hutan Mapenduma Irian Jaya. Keberhasilan operasi di Irian Jaya tahun 1996 saat menjadi anak buah Prabowo Subianto ini membuat Cantiasa memperoleh kenaikan pangkat luar biasa (KPLB) dari Letnan Satu menjadi Kapten. Tahun 2006 ia ditunjuk sebagai komandan kontingen RI di ajang AARM (lomba tembak militer se-ASEAN) di Vietnam. Tantangannya, kalau gagal, ia dicopot jabatannya. Indonesia sudah 15 kali ikut lomba tidak pernah menang. Berkat kerja keras tim, mereka bisa meraih juara umum dari 15 trofi, Indonesia meraih 9 trofi. Negara peserta heran melihat prestasi Indonesia yang luar biasa kata. "Moto kami saat itu, "impossible make possible". Saya dan tim pun dipanggil Presiden SBY ke Istana Negara. Tidak semua tentara bisa menghadap langsung dengan Presiden," ujar Komandan upacara saat upacara penurunan bendera 17 Agustus 2013 ini di Istana Negara Jakarta.
Sumber : 10-menit-perompak-somalia-takluk

 

( Foto : Panglima Kodam Kasuari Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa saat meresmikan Pura di lingkungan Makodam XVIII Kasuari )
 

( Foto : Panglima Kogabwilhan III Letjen TNI I Nyoman Cantiasa saat mendampingi Panglima TNI Laksamana TNI Yudo Margono di Peresmian Pura TNI AL )

Saat berkesempatan bertugas di Bali menjadi Danrem 163 Wirasatya, Letjen TNI I Nyoman Cantiasa berbagi terkait pengalaman konflik di berbagai wilayah merupakan suatu contoh dan pelajaran karena akhirnya semua hanya penyesalan ibarat nasi sudah jadi bubur. "Kita bunuh diri namanya bila situasi di Bali tidak aman masyarakat kita tidak bisa cari kerja karena tidak ada wisatawan yang datang". Ia pun mengingatkan mereka untuk mengedepankan ajaran agama Hindu seperti Tattwam Asi dan Ahimsa. Sesama orang Bali dan orang yang tinggal di Bali, tidak mengenal dari berbagai suku agama golongan yang penting tinggal di Bali  jangan mudah terprovokasi dan diadu domba. Kalau sampai ini terjadi, orang lain akan tepuk tangan. Keamanan bukan hanya tugas tentara atau polisi saja tetapi ini adalah tugas tanggung jawab bersama. TNI adalah rakyat, bersama rakyat TNI kuat dan bersama TNI rakyat sejahtera.

2. Komisaris Jenderal Polisi (Purn.) Drs. I Made Mangku Pastika, M.M.

“De, saya menunjuk kamu menjadi Ketua Tim Investigasi peledakan bom di Kuta, Bali. Saya sudah bicara dengan pers. Jadi kamu segera berangkat hari ini,” begitu suara Kapolri Da’i Bachtiar di ujung telepon ketika berkomunikasi dengan Made Mangku Pastika. Peristiwa itu terjadi 16 Oktober 2002, di mana Mangku Pastika (saat ini Gubernur Bali) masih menjabat Kapolda Papua. “Siap Pak!,” kata Mangku Pastika. Sebagai putra Bali, Pastika tak menyangka tanah tumpah darahnya menjadi sasaran tindakan laknat teroris. Apa salah Bali? Apa salah orang Bali? Begitu dia membatin. Dia lantas membayangkan masyarakat Bali akan menderita karena pariwisata yang jadi andalan, lumpuh.
 
Bom Bali I melahirkan sosok pahlawan bernama I Made Mangku Pastika, Gubernur Bali dua periode. Nama pria kelahiran Patemon Seririt Buleleng pada 22 Juni 1951 ini menjulang tinggi ketika Markas Besar Polri menunjuknya sebagai Ketua Tim Investigasi Pengungkapan Pelaku Bom Bali. Pastika punya reputasi yang mengagumkan di bidang reserse. Da’i Bachtiar cukup mengenalnya, karena Da’i pernah menjadi atasan langsung Pastika. Saat itu belum menjadi Kapolri, Da’i sempat menjadi Dankorserse Mabes Polri, dan Pastika menjadi salah satu direktur di lembaga elit itu. Da’i juga tahu Pastika pernah menjadi sekretaris MCB Interpol. Ketika menjadi perwira menengah, Pastika juga pernah menempuh pendidikan di International Crime Inteligency Course, Inggris. Selain itu, Mangku Pastika pernah menimbah ilmu bidang management of serious crime course (MOSC) di Canbera, Australia. Pesertanya kepala-kepala polisi di Negara bagian. Satu-satunya siswa tamu hanya Pastika. Balakangan saat Pastika ditunjuk menjadi Ketua Tim Investigasi Bom Bali, salah seorang rekannya di MOSC yakni Mick Keelty menjadi Kepala Polisi Federal Australia. Hubungan emosional yang baik keduanya sangat membantu ketika Australia juga membantu Indonesia dalam upaya mengungkap kasus bom Bali. 

( Foto : Komjen Pol. I Made Mangku Pastika adalah satu-satunya Perwira Polisi asal Bali di Kepolisian RI yang hampir menjadi Kapolri )

Ia menguasai enam bahasa asing dan merupakan peraih Adhi Makayasa (lulusan terbaik) Akabri Kepolisian pada tahun 1974. Ia merupakan putra kedua dari enam bersaudara (lima laki-laki dan satu perempuan). Bapaknya adalah seorang pendidik, guru tari, dan juga guru silat. Kehidupannya sejak kecil penuh dengan lika-liku, karena beliau terlahir dari keluarga sederhana. Ia terbiasa mencari uang saku tambahan sepulang sekolah dengan menyabit rumput dan menangkap belut. Ketika Gunung Agung meletus pada tahun 1963, keluarga mangku Pastika pindah ke Bengkulu. Di sana ia sempat menjadi pembantu rumah tangga dan berjualan makanan. Ketika SMP di Kota Bengkulu beliau pindah ke Kota Palembang. Saat duduk di bangku SMA Negeri 2 Palembang, ia mengajar anak-anak sekolah dasar di sore harinya. Karir Mangku Pastika bermula setelah beliau lulus dari AKABRI Kepolisian dan menjadi Komandan Peleton 1 Kompi I, Batalyon B, Brimob Polda Metro Jaya. Beberapa bulan kemudian, yaitu pada tanggal 05 Desember 1975, Pastika beserta Batalyonnya bertugas ke Timor Portugis (pada waktu itu namanya belum Timor-Timur). Pastika bertugas di Timor Portugis sampai Juli 1976, sesaat sebelum berintegrasinya Timor Portugis dengan Republik Indonesia dan menjadi Propinsi ke-27 dengan nama Propinsi Timor- Timur. Pada tanggal 30 Oktober 1999, Sang Merah Putih diturunkan dari Markas Komando Pasukan ABRI terakhir dalam suatu upacara yang sangat mengharukan. Pastika sendiri meneteskan air mata sedih dan marah, menyaksikan terlepasnya bagian wilayah Rl yang telah menyatu dengan Ibu Pertiwi dalam suka maupun duka selama 23 tahun. Sebuah pelajaran yang sangat berharga harus dipetik dari peristiwa ini oleh bangsa Indonesia dan para pemimpinnya. Pastika sendiri merasa mendapat pengalaman yang sangat berharga, baik dalam kapasitas pribadi maupun sebagai anggota Polri/ABRI. Pada Oktober 1977, Pastika mendapat tugas baru sebagai Ajudan Menteri Pertahanan dan Keamanan atau Panglima ABRI Jenderal TNI Maraden Panggabean, selama 4 (empat) tahun termasuk ketika beliau pada tahun 1978 menjadi Menko Polhukam Rl.
( Foto : Kapten Polisi I Made Mangku Pastika saat menjadi Ajudan Menhan/Panglima ABRI Jenderal TNI Maraden Panggabean )

Problema para pengungsi Timor Timur yang memuncak dengan adanya Resolusi Dewan Keamanan PBB tentang Keamanan di NTT. Kapolri menugaskan Irjen Pol I Made Mangku Pastika sebagai Kapolda NTT agar dapat menyelesaikan semua persoalan keamanan (termasuk penyidikan kasus Atambua yang menewaskan 3 tiga) petugas UNHCR. DK PBB merasa puas dan resolusi pundi cabut. Situasi keamanan berangsur-angsur pulih kembali dan kehidupan masyarakat kembali normal.Setelah bertugas kurang lebih 4 (empat) bulan sebagai Kapolda NTT, kembali terjadi masalah keamanan di Irian Jaya (sekarang Papua). Seluruh Muspida Propinsi (kecuali Gubernur Jaap Salosa) tewas dalam suatu kecelakaan pesawat terbang, termasuk Pangdam Cenderawasih dan Kapolda Irian Jaya (alm. Irjen Pol. FX.Sumardi) Sementara itu terjadi penyanderaan terhadap karyawan PT Korindo (ada beberapa orang Korea) oleh kelompok OPM di bawah Pimpinan Willem Onde diwilayah Merauke, Irian Jaya. Kapolri kembali menugaskan Mangku Pastika menuju Irian Jaya untuk menjabat sebagai Kapolda Irian Jaya dengan tugas pertama membebaskan para sandera, bekerjasama dengan Pangdam Trikora Mayjen Mahidin Simbolon (pernah menjabat sebagai Kasdam IX/Udayana, teman seangkatan Mangku Pastika di AKABRI dan SESKOAD).
( Foto : Kapolda Bali Irjen Pol. I Made Mangku Pastika di Tugu Peringatan Bom Bali )
 
Tanggal 12 Oktober 2002 adalah momen yang telah mengubah awal hidup seorang Mangku Pastika. Peristiwa tersebut telah. membuatnya shock/sedih, kecewa, marah dan akhirnya sadar, bahwa Bali telah berubah. Daerah yang tadinya terkenal aman, tentram, damai, dan bersahabat telah berubahmenjadi daerah yang membuat takut dan khawatir untuk mengunjunginya. Sebagai seorang putra Bali yang beragama Hindu, Mangku Pastika senantiasa berusaha sekuat tenaga bertindak berdasarkan dharma dan kesucian, kesungguhan,kesabaran, dan keikhlasan, seraya memohon Pakeling dan Waranugraha Sang Hyang Widhi, Hyang yang Maha Tunggal dan Maha Kuasa. Tuhan pasti akan memberikan jalan untuk mengungkap suatu kejahatan yang telah merenggut nyawa lebih dari 200 orang yang tidak berdosa dan kesengsaraan bagi ribuan orang, baik langsung maupun tidak langsung.
Sumber : Bom_Bali_2002
 
Hal ini dibuktikan ketika pada hari Sabtu tanggal 2 November 2002 disaat Ketua Tim Investigasi Bom Bali Irjen Pol. I Made Mangku Pastika melakukan persembahyangan di Pura Besakih dalam rangka memulai renovasi Pura Besukihan (pura yang didirikan oleh Rsi Markandya dengan memendam panca datu untuk menyelamatkan Pulau Bali), tim penyidik menemukan nomor KIR dari mobill 300 yang diledakkan oleh para teroris. Berbekal nomor KIR inilah, tim penyidik akhirnya menangkap Amrozi sebagai pemilik ketujuh dari mobil tersebut.
 
Atas keberhasilan itulah, majalah berita internasional TIME menyatakan Mangku Pastika sebagai salah satu Men of The Year 2002, Asia Newsmaker and Asia Hero Against Terrorism. Tidak ketinggalan majalah Business Week juga menobatkan MP sebagai salah satu dari 25 Asia Star 2003, sebagai salah seorang yang berperan dalam perubahan kebijakan publik.“The war on terror desperately needed an Asian hero.Now it has found one.”-TIME Magazine-.
 
Namun, I Made Pastika sendiri menganggap bahwa tugas tersebut adalah anugerah dan berkah dari Hyang Widhi. Sebagai putra Bali, Mangku Pastika telah lama sekali ingin bertugas di Bali, mengabdi kepada tanah leluhur dan tanah kelahiran yang sangat dicintai dan dibanggakan, namun telah ditinggalkan merantau untuk Transmigrasi ke Sumatera selama berpuluh tahun. Terlebih-lebih setelah menyaksikan Bali dalam keadaan terpuruk, menangis dan menderita akibat serangan para teroris. Disamping itu, Mangku Pastika juga telah menyaksikan kondisi Bali yang ternyata telah tampak berubah dari kesan dan ingatannya tentang Bali di masa lalu, ketika meninggalkan Bali pada tahun 60-an Bali yang dijuluki Pulau Dewata bahkan juga the last paradise dengan slogan-slogan seperti jangan mati dulu sebelum melihat Bali dan lain-lainnya,pada pandangan Mangku Pastika telah mulai berubah. Itulah sebabnya penugasan kembali ke Bali sebagai Kapolda Bali merupakan berkah dan anugerah, dengan tekad untuk mengabdikan diri sepenuh hati memberikan dharma-bakti sebagai seorang putera kepada Ibunda tercinta. Made Mangku Pastika mendapat kepercayaan dari negara untuk melanjutkan pengabdian pada BNN (Badan Narkotika Nasional) sebagai Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar). Sehingga ia mendapat kenaikan pangkat dan mencetak sejarah sebagai Jenderal Polisi asal Bali pertama yang meraih Bintang 3 di Polri. 
Sumber : made-mangku-pastika-jejak-derita-jenderal-bintang-tiga
 
( Video : Perjuangan Mangku Pastika mengayomi Umat Hindu selama Dinas di Kepolisian RI )
 
Tugas sebagai Kepala Pelaksana Harian BNN dijabatnya sampai Agustus 2008. Sejauh-jauh burung bangau terbang, akhirnya kembali juga ke kandang. Ungkapan itu tepat ditujukan pada kiprah ngayah Komjen Pol. I Made Mangku Pastika. Melihat ironi yang ada di Bali, bahwa di Pulau Surga, Pulau Dewata, dan berbagai sebutan indah untuk Bali, Mangku Pastika melihat masih sangat banyak masyarakat miskin. Menurut penilaiannya, semestinya Bali bebas kemiskinan. Kondisi ini membuatnya terhenyuh sekaligus terpanggil kembali untuk mengabdikan konsep pemikirannya dalam membangun daerah kelahirannya ini. Dengan data penduduk miskin di daerah Bali sebanyak 6,17% pada tahun 2008, I Made Mangku Pastika merumuskan visi Bali Mandara (Bali yang maju aman, damai, dan sejahtera) dan menjabat Gubernur Bali selama 2 Periode sampai di tahun 2018.

3. Marsekal TNI (Purn.) Ida Bagus Putu Dunia

"Putu, walaupun kamu pintar dan mendapat Adhi Makayasa, kamu tidak akan mungkin menjadi Kasau."

"Mas, jangan pernah bermimpi akan menjadi Kasau ya...!"

Kata-kata itu selalu diingat oleh Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia. Putra Bali kelahiran 20 Februari 1957 di Desa Nyambu, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan ini merupakan Lulusan Terbaik Peraih Bintang Adhi Makayasa AKABRI Udara pada tahun 1981. Hingga akhirnya, lontaran kalimat-kalimat itu terjawab pada tahun 2012, ketika dirinya dilantik oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) ke-19. Ia mencatat sejarah sebagai putra Bali pertama yang mencapai pangkat tertinggi di dalam dunia militer (Marsekal atau Jenderal Bintang 4). Ia pun satu-satunya Putra Bali dan beragama Hindu pertama yang hampir terpilih menjadi Panglima TNI, karena pada situasi saat itu adalah jatah TNI Angkatan Udara yang mendapat giliran untuk menduduki posisi Panglima TNI. Sumber : ib-putu-dunia-calon-panglima-tni
( Foto : Marsekal IB Putu Dunia bersama Sang Isteri )
 
Para taruna Akademi Angkatan Udara bermimpi untuk menjadi Kasau. Sebuah perjalanan yang panjang untuk bisa mencapai cita-cita itu. Terlebih selama puluhan tahun Indonesia merdeka, belum ada putra Bali yang berhasil menggapainya.

Tapi ternyata sejarah baru terukir. Setelah 67 tahun Indonesia merdeka, pertama kalinya putra Bali memperoleh kepercayaan untuk menyandang pangkat 4 TNI/Polri. Sosok yang diberi mandat tersebut adalah IB Putu Dunia. Walaupun ia ingat betul saat masih berpangkat Letnan, tidak sedikit perwira senior yang menyangsikan kemampuan dan mimpi-mimpinya. Atas apa yang dicapainya, Marsekal TNI IB Putu Dunia berharap dirinya bukanlah satu-satunya putra Bali yang mampu membuktikan dan berhasil ada di posisi itu.

Ia mengatakan, sejak awal dinas di TNI AU, ia mendapat Korps/Jurusan Penerbang (PNB) untuk menerbangkan pesawat tempur. Meski kadang singkatan PNB diartikan sebagai "Perwira Nasib Baik." IB Putu Dunia tetap berpegang pada prinsip bahwa agar memiliki nasib yang baik, maka perlu perjuangan sehingga bisa memenangkan persaingan. Setidaknya harus memiliki nilai yang lebih dari orang lain.

Nasib baik tersebut, menurutnya tak dibawa begitu saja sejak lahir, melainkan memerlukan usaha dan setiap saat mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Sebagaimana kata pepatah, "Luck is what happen when preparation meets opportunity."

( Foto : IB Putu Dunia saat menjadi Komandan Pangkalan Udara di Makassar )

Marsekal TNI IB Putu Dunia yakin, bahwa perlu "satu nilai plus" seseorang untuk mencapai kesuksekan. Nilai plus itu terbentuk dari sinergi antara pengetahuan dan strategi, serta ditunjang dengan keberanian mengambil risiko yang terukur. Terlepas dari itu, tetap ada faktor X yang sangat sulit untuk dijelaskan.

Faktor-faktor tersebut beberapa kali telah dibuktikannya. Misalkan ketika menjalankan tugas-tugas yang diberikan padanya. Ia harus berani dan mau melaksanakan tugas terbang solo enam jam pesawat A-4 Skyhawk dengan pengisian bahan bakar di udara/air refueling dan dalam kondisi sudah empat tahun tidak pernah latihan air refueling.

Selain itu, sebagai Komandan Lanud, ia mempersiapkan dan bertanggung jawab untuk menerbangkan pilot SU 27/30 Sukhoi yang tidak laik/current terbang karena kesiapan pesawat zero, dengan mengubah Standing Operational Procedures (SOP). Di mana sepertinya latihan dilakukan di luar negeri, tapi biayanya mahal. 

Ia juga pernah ditugaskan sebagai Kontingen Garuda IX/1, menjadi anggota United Nations Iran-Iraq MIlitary Observer Group (UNIIMOG). Dalam situasi perang Iran-Irak itulah dirinya hampir menjadi korban ranjau. Ketika itu ia bersama rombongan mengadakan patroli rutin. Di depannya satu kendaraan dikawal tentara Irak. Tiba-tiba kendaraan di depannya mengalami ledakan keras yang rupanya ban mobil melindas ranjau.

Kemampuan melaksanakan tugas dan kewajiban itulah yang ia percaya, akhirnya memberikan "buah" tersendiri dalam perjalanan kariernya. Tak cukup hanya memiliki kemampuan dan memahami teknologi saja, bagi suami dari Ida Ayu Kumala Dewi ini, bisa diterima oleh lingkungan dan menjaga nilai-nilai spiritualitas sangatlah penting. Begitu pula dengan dukungan dan restu dari pihak keluarga.

( Foto : Marsekal IB Putu Dunia saat dilantik menjadi KASAU oleh Presiden SBY )


(Foto : Marsekal IB Putu Dunia didampingi para pejabat asal Bali diantaranya Gede Sumarjaya Linggih Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Menteri ESDM Ir. Jero Wacik, Ketua Umum PHDI Pusat Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma dan Ketua Komisi III DPR RI Gede Pasek Suardika Fraksi Partai Demokrat )

Saat itu, Senin 17 Desember 2012, Marsekal Madya TNI Ida Bagus Putu Dunia akhirnya secara resmi dilantik oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) ke-19, menggantikan Marsekal TNI Imam Sufaat SIP. Apa yang dulu saat kecil sering dibayangkan oleh IB Putu Dunia menjadi kenyataan. Saat kecil, IB Putu Dunia memang suka melihat kapal yang terbang di langit. Sumber : presiden-lantik-kasau-dan-kasal

"Waktu kecil saya tidak tahu apa itu cita-cita. Saya hanya ingin dapat mengisi hidup menjadi lebih baik, jangan seperti orangtua saya yang harus susah bekerja di sawah."

( Foto : KASAU menganugerahkan Bintang Adhi Makayasa kepada Letda (Pnb) I Putu Satrya Kedaton sebagai Lulusan Terbaik Akademi Angkatan Udara Tahun 2013 )

Beberapa tahun setelah menyandang predikat purnawirawan dan memimpin TNI AU dengan sukses, putra dari Ida Bagus Made Tantera dan Ida Ayu Ketut Nur itu memberi pesan agar para juniornya bisa terus berjuang dan bahkan melebihi dirinya. 

"Saya sangat berharap akan ada para junior yang mencapai pangkat seperti saya, bahkan dengan karier yang lebih baik. Saya mau sebagai orang Bali yang menjadi Jenderal pertama, tetapi tidak mau menjadi satu-satunya Jenderal asal Bali." 


( Foto : Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia meresmikan Kori Agung, tempat ibadah umat Hindu di area Pura Vaikuntha Vyomantara sekitar Lapangan Udara Adisutjipto, Yogyakarta )
 


4. Laksamana Madya TNI (Purn) I Putu Ardana

 

Laksamana Madya TNI (Pur) I Putu Ardana merupakan Purnawirawan TNI AL yang terakhir menjabat sebagai Wakil Gubernur Lemhanas dan Panglima Komando Armada RI Wilayah Barat pada tahun 2001. Perwira kelahiran Bali ini merupakan Lulusan Terbaik Peraih Bintang Adhi Makayasa Akademi Angkatan Laut Surabaya dari Korps Pelaut pada tahun 1971 dan satu-satunya Perwira asal Bali yang hampir menduduki posisi tertinggi di TNI Angkatan Laut sebagai KSAL (Kepala Staf TNI Angkatan Laut). Beliau terakhir aktif sebagai Ketua Umum DPP Prajaniti Pusat Hindu Indonesia masa bakti Tahun 2013 - 2018.
 

( Foto : Laksamana Madya TNI (Purn) I Putu Ardana bersama DPP Prajaniti Hindu Indonesia )

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

30 Tahun KMHDI, Berikut 15 Alumni KMHDI yang Sukses di Berbagai Bidang